Sabtu, 18 Februari 2012

Gang Sunan Ampel

Di lorong inilah semuanya dimulai. 11 tahun yang lalu, tepatnya. Sebuah lorong dengan nama "gang Sunan Ampel". Dengan angin sore bulan Juni yang mengajakku berkenalan dengan perbedaan cuaca dari lereng perbukitan. Di sinilah catatan itu bermula. Menjelajahi episode enam tahun yang penuh petualangan dan kejutan kejutan.

Hmmm... telah lama ternyata. Apa yang berubah?
Status, kesibukan, mindset, bla bla bla...
termasuk warung masakan padang itu. Telah disulap menjadi counter photocopy.

Lalu gedung gedung itu, ah, semua telah runtuh. Gedung-gedung tua yang mengelilingi jajaran pohon lengkeng, tempat wajah wajah muda bersenda dan mahsyuk dalam gairah jingga. Semua telah berubah, sahabat. Ada yang asing dalam detak jantungku ketika langkah langkah itu perlahan menyusuri sebuah pintu dengan tiga resepsionist yang menunggu. Sebuah pemandangan yang sungguh tak akrab di mataku.

Dan lorong inilah. Di antara kepulan nasi panas dan ayam goreng. Lorong ini masih sama. Jalan panjang ke barat yang pastinya akan mengantarkan aku menuju beranda yang dulu. Di mana ku perkenalkan padamu sebuah lagu tentang seseorang. Beranda yang menjadi persinggahan menuangkan segelas certita. Lalu lelaki paruh baya itu. yayaya, yang punya wartel yang selalu tajam mengawasi kau dan aku.

Senin, 30 Januari 2012

Sehembus

Ada kerinduan tentang catatan-catatan masa lalu sesaat setelah pembicaraan kita lewat. Huruf-huruf itu terhenti oleh beratnya mata yang mulai sayu. Kerinduan tentang jiwa yang masih belia. Sewaktu malam bulan mei masih menggigit dingin pula. Dan guratan-guratan gambar itupun perlahan singgah. Satu-satu wajah yang telah entah ke mana bersijingkat dalam senyum menggemai rongga kepala. Namun inilah sebuah cerita yang selalu oleh Tuhan disembunyikan. Seperti kata-katamu, tentang apa yang saat ini kau nikmati.
Demikianlah pula aku, Sofia. Sajak-sajak itu telah lama redup dalam senja. Dan gema erangan yang sempat berteriak-teriak di depan trotoar malam itu hanya menjadi sebuah cerita. Ya ya ya. Cerita itu kini menjadi cerita. Cerita untuk wajah-wajah baru yang dengan tekun mendengarkan dongeng dari kakek Tua sepertiku. Ah, sudah berapa tahunkah?
Seperti telah lewat sudah. Seperti  ada dunia lain. atau memang dunia telah terbelah? Dan masih-masing kita terlempar ke dataran yang berlainan. Ke bukit-bukit, lembah-lembah, dan jurang-jurang dengan dekorasi serta gambar-gambar yang berlainan pula.

Rabu, 18 Januari 2012

Rumpun Bambu

Tak ada yang perlu dibicarakan antara rumpun bambu dan keladi yang masih menghijau beberapa minggu lalu. Sebab inilah putaran waktu. Sebab bumi bulat. Sebab kepala dan perut manusia juga bulat. Maka segala bentuk catatan akan berubah judul dan episodenya. Di kanfas goresan warna membentuk garis aragaris yang berbeda pula. Sebab kemarau sudah berlalu, dan hujan tak lagi lama menunggu. Maka tak ada yang perlu dibicarakan lagi antara ilalang dan rumpun bambu tentang waktu yang tiba. Tentang tajamnya bilah parang yang menebas skenario pematang sawah.
Tak ada yang perludibicarakan lagi antara ilalang dan rumpun bambu. Sebab mereka telah terkulai. Dan siap dibilah menjadi rajutan dinding-dinging rumah. Sebab bumi tempat tumbuh dan berdiri, akan disulap menjadi dinding beton dengan akar-akar investasi tingkat tinggi.
Namun beginilah selalu cerita putaran waktu. Dan tak ada lagi yang perlu dibicarakan antara padang ilalang dan rumpun bambu...

Kamis, 05 Januari 2012

Elegi Kampoeng Lama

Kota kecil ini, kampung ini, sudah tidak seperti dulu. Ia bukan lagi kampung yang menaklukkan siapapun yang datang menjadi lebih baik dan matang. tapi kampung inilah yang sekarang takluk dan berserah pada siapa yang datang.

Dulu, kampung ini selalu mengajarkan siapa saja yang datang untuk belajar hakikat hidup dan kesederhanaan. Siapa pun yang datang ke sini, harus mau makan di warung sederhana dengan menu sederhana dengan harga seribu rupiah. Dulu siapa pun yang datang ke sini harus belajar mandi di kamar mandi belakang rumah yang kadang dindingnya hanya selapis kayu atau rajutan bambu, atau bahkan sulaman daun daun pisang yang kadang meninggalkan lubang. Dulu siapa pun yang datang ke sini harus belajar bagaimana berbusana layaknya masyarakat desa yang sederhana, santun, dan bersahaja. Dulu di atas jam 9 malam kampung ini sudah begitu sepi, jalanan lengang, dan tak akan terlihat satu pun gadis sekedar berjalan di luar.

Namun beginilah jaman, kawan. Setiap keaslian akan rela tergerus oleh peradaban-peradaban baru yang datang. Kampung ini tentu saja, tak sesepi dulu, bisa dikatakan sudah merangkak menjadi setengah metropoltan. Warung warung sederhana dengan hidangan khas masyarakat desa dan harganya yang murah telah banyak yang undur diri, perlahan dengan sahajanya menghilang dan pergi, dan berganti dengan kafe kafe gaul ala anak remaja yang lengkap dengan musiknya yang membuat kepala tak bisa diam. Menu menu sederhana itu pun mulai berubah nama dengan ejaan ejaan yang mungkin membuat lidah penduduk desa ini keseleo untuk mengucapkannya.

Di setiap sudut kafe dan jalan, tak akan asing lagi remaja remaja dengan busana ala sinetron, gaya bahasa ala sinetron, bahkan tertawa ala sinetron. Kampung ini sudah berserah. Tak lagi mampu mengajarkan pada siapa pun yang datang untuk belajar memahami hidup susah. Namun kampung ini kini telah siap memanjakan siapa pun yang datang dengan kamar-kamar mewah lengkap dengan kamar mandi di dalamnya. Dan di atas jam 10 malam pun, di kafe maupun sepanjang jalan, gadis gadis atau pun pemuda pemuda dan rejama masih riuh berbincang di remangnya suasana malam.

Selasa, 03 Januari 2012

Diklat Mental Sinetron

Andai bahasa wajah bisa dituliskan dengan huruf-huruf...
Ingin aku ceritakan betapa tidak hanya bahasa kata, tapi bahasa wajah dan bahasa tubuh remaja-remaja atau bahkan orang-orang dewasa jaman sekarang sudah lulus diklat dan pelatihan gaya ujar ala sinetron. Jutek, ketus, judes, penuh intimidasi.

Ya setidaknya itulah yang terjadi. Pada sebagian besar masyarakat kita. Terutama remaja, terutama rejama puteri, terutama di kota-kota besar. Mental sinetron seperti sudah berkacak pinggang mengalahkan Pendidikan Moral Pancasila, Pkn, Aqidah ahlaq, atau doktrin unggah ungguh alias pendidikan tata krama.

Tidak hanya pilihan kata ketika berujar dan bagaimana intonasi mengucakannya, gerakan mata ketika memandang, bahkan gerakan bibir dan suara napas pun persis seperti adegan sinetron. Tapi ini bukan sinetron, ini kehidupan nyata.

Jumat, 30 Desember 2011

Lelaki dan Airmata

Perlahan pintu terbuka, dan kulihat lelaki itu pun masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu, mengucapkan assalamu'alaikum, dan aku persilahkan masuk. Matanya berbinar dengan segaris senyum di antara wajahnya yang tegap serasi dengan tubuh besar dan tingginya. Aku persilahkan ia duduk sambil tentu saja kusambut senyumannya dengan senyum pula.

Ia nampak ragu-ragu sembari tetap mempertahankan senyumnya yang perlahan mulai bisa aku tangkap maknanya. Dan benar, ia hendak berkonsultasi, atau dalam bahasa anak sekarang lebih dikenal dengan istilah curhat.

Perlahn ia membuka pembicaraan dengan sedikit senyum yang sesekali dibarengi dengan cengengas cengenges yang semakin aku tangkap maksudnya. Dan seperti yang aku duga, senyum dan cengengesaannya mulai pudar dan berubah menjadi suara yang sedikit gemetar.

Wajahnya menengadah, berusaha menahan bulir bulir airmata yang mulai menggenang di kelopak matanya. Namun ia tak bisa bersembunyi, kegalauan itu pun pecah. Pipinya, rahang yang gagah itu pun basah bersama suaranya yang putus putus.

Lelaki dan airmata...

Terjadi lagi. Dan lagi. Dan lagi...

Di sinilah aku semakin mengerti bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam fitrah yang sama meskipun dengan bungkus jasmani yang berbeda. Mungkin ini juga yang dalam bahasa Ari Ginanjar disebut sebagai anggukan universal.

Ya ya ya. Anggukan universal alias fitrah manusia dalam merasakan dan merespon sesuatu dengan nalurinya. Manusia, gender apa pun dia (bahkan termasuk waria), sebesar apapun ukuran tubuhnya, seperti apa pun warna kulitnya, tetaplah punya nurani dia mana ia bisa merasa sedih dan menangis sebagaimana lelaki gagah yang saat ini tersedu dan terisak di depanku.

Menangislah
bila harus menangis
karna kita semua manusia... *)


*) dikutip dari bait lagu karya Ahmad Dhani

Kamis, 29 Desember 2011

SURABAYA - SEPTEMBER - 2000

 Buat Iman Diyasso Ismail

Gambar gambar itu berlompatan satu demi satu dari setiap huruf yang kau susun untuk merangkai mimpi itu. Mimpi tentang sebuah negeri di mana tidak lagi ada suara senapan. Tidak lagi ada bau asap mengawang di udara. Tidak lagi ada terdengar derap kaki berlarian. Tidak lagi ada bunyi letusan dari sudut sudut yang memilukan. Dan aku pun luruh seperti serbuk mesiu yang terempas pada genangan doa dan cintamu pada mereka.

Mimpi mimpimu mengingatkanku pada suatu tempo di tahun 2000 silam. Saat itu aku sedang dalam perjalanan ke kampus IAIN di Surabaya. Seorang pedagang asongan menawari sebuah surat kabar di atas bis kota yang kutumpangi. Sejenak mataku tertuju pada beberapa foto seorang ayah dan anak laki lakinya. Setelah kubaca, ternyata foto-foto itu adalah gambar seorang ayah di Palestina bersama seorang anak laki-lakinya-kalau tidak salah namanya Ali-yang sedang berusaha keras menghindari terjangan peluru tentara-tentara israel yang membabibuta. Ada sekitar empat foto. Foto pertama sampai ke tiga memperlihatkan ekspresi ketakutan mereka yang luar biasa dari wajar mereka. Lelaki itu begitu erat memeluk anaknya sambil berusaha menepi di sebuah sudut demi menghindari terjangan peluru. Bibirnya nampak bergetar, matanya gelisah, dan entah tak terbayangkan apa yang ada di hati dan pikirannya waktu itu. Lalu foto keempatlah yang kemudian membuncahkan hati dan airmataku kala itu. Di foto ke empat, lelaki itu nampak menangis histeris, ia berteriak, dan Ali, anak laki-lakinya-tak dapat ia selamatkan. Ali wafat diterjang kebiadapan peluru tentara israel.

Aku terhenyak beberapa memandangi foto-foto itu. Aku seperti mendengar ledakan-ledakan, derap kaki orang yang berlarian mencari persembunyian, letusan-letisan senapan, dan jerit suara yang sahut menyehut dari setiap sudut. Aku seperti merasakan aroma gelisah yang luar biasa. Dan tentu saja, imajenasiku tak mampu menjangkau level ketakutan yang sebenarnya, dan aroma pembuhunan yang sebenarnya yang tengah terjadi di sana. "Ya rab..." kalimat itu pun terucap bersama dengan airmataku yang tak dapat aku bendung. seketi hatiku berdoa agar Allah segera membinasakan bangsa Yahudi la'natullah dari muka bumi ini. Hatiku berdoa agar negeri itu, Palestina, seperti yang ada dalam mimpimu, dalam kemerdekaan yang nyata...