Kamis, 05 Januari 2012

Elegi Kampoeng Lama

Kota kecil ini, kampung ini, sudah tidak seperti dulu. Ia bukan lagi kampung yang menaklukkan siapapun yang datang menjadi lebih baik dan matang. tapi kampung inilah yang sekarang takluk dan berserah pada siapa yang datang.

Dulu, kampung ini selalu mengajarkan siapa saja yang datang untuk belajar hakikat hidup dan kesederhanaan. Siapa pun yang datang ke sini, harus mau makan di warung sederhana dengan menu sederhana dengan harga seribu rupiah. Dulu siapa pun yang datang ke sini harus belajar mandi di kamar mandi belakang rumah yang kadang dindingnya hanya selapis kayu atau rajutan bambu, atau bahkan sulaman daun daun pisang yang kadang meninggalkan lubang. Dulu siapa pun yang datang ke sini harus belajar bagaimana berbusana layaknya masyarakat desa yang sederhana, santun, dan bersahaja. Dulu di atas jam 9 malam kampung ini sudah begitu sepi, jalanan lengang, dan tak akan terlihat satu pun gadis sekedar berjalan di luar.

Namun beginilah jaman, kawan. Setiap keaslian akan rela tergerus oleh peradaban-peradaban baru yang datang. Kampung ini tentu saja, tak sesepi dulu, bisa dikatakan sudah merangkak menjadi setengah metropoltan. Warung warung sederhana dengan hidangan khas masyarakat desa dan harganya yang murah telah banyak yang undur diri, perlahan dengan sahajanya menghilang dan pergi, dan berganti dengan kafe kafe gaul ala anak remaja yang lengkap dengan musiknya yang membuat kepala tak bisa diam. Menu menu sederhana itu pun mulai berubah nama dengan ejaan ejaan yang mungkin membuat lidah penduduk desa ini keseleo untuk mengucapkannya.

Di setiap sudut kafe dan jalan, tak akan asing lagi remaja remaja dengan busana ala sinetron, gaya bahasa ala sinetron, bahkan tertawa ala sinetron. Kampung ini sudah berserah. Tak lagi mampu mengajarkan pada siapa pun yang datang untuk belajar memahami hidup susah. Namun kampung ini kini telah siap memanjakan siapa pun yang datang dengan kamar-kamar mewah lengkap dengan kamar mandi di dalamnya. Dan di atas jam 10 malam pun, di kafe maupun sepanjang jalan, gadis gadis atau pun pemuda pemuda dan rejama masih riuh berbincang di remangnya suasana malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar