Perlahan pintu terbuka, dan kulihat lelaki itu pun masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu, mengucapkan assalamu'alaikum, dan aku persilahkan masuk. Matanya berbinar dengan segaris senyum di antara wajahnya yang tegap serasi dengan tubuh besar dan tingginya. Aku persilahkan ia duduk sambil tentu saja kusambut senyumannya dengan senyum pula.
Ia nampak ragu-ragu sembari tetap mempertahankan senyumnya yang perlahan mulai bisa aku tangkap maknanya. Dan benar, ia hendak berkonsultasi, atau dalam bahasa anak sekarang lebih dikenal dengan istilah curhat.
Perlahn ia membuka pembicaraan dengan sedikit senyum yang sesekali dibarengi dengan cengengas cengenges yang semakin aku tangkap maksudnya. Dan seperti yang aku duga, senyum dan cengengesaannya mulai pudar dan berubah menjadi suara yang sedikit gemetar.
Wajahnya menengadah, berusaha menahan bulir bulir airmata yang mulai menggenang di kelopak matanya. Namun ia tak bisa bersembunyi, kegalauan itu pun pecah. Pipinya, rahang yang gagah itu pun basah bersama suaranya yang putus putus.
Lelaki dan airmata...
Terjadi lagi. Dan lagi. Dan lagi...
Di sinilah aku semakin mengerti bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam fitrah yang sama meskipun dengan bungkus jasmani yang berbeda. Mungkin ini juga yang dalam bahasa Ari Ginanjar disebut sebagai anggukan universal.
Ya ya ya. Anggukan universal alias fitrah manusia dalam merasakan dan merespon sesuatu dengan nalurinya. Manusia, gender apa pun dia (bahkan termasuk waria), sebesar apapun ukuran tubuhnya, seperti apa pun warna kulitnya, tetaplah punya nurani dia mana ia bisa merasa sedih dan menangis sebagaimana lelaki gagah yang saat ini tersedu dan terisak di depanku.
Menangislah
bila harus menangis
karna kita semua manusia... *)
*) dikutip dari bait lagu karya Ahmad Dhani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar