Kamis, 29 Desember 2011

SURABAYA - SEPTEMBER - 2000

 Buat Iman Diyasso Ismail

Gambar gambar itu berlompatan satu demi satu dari setiap huruf yang kau susun untuk merangkai mimpi itu. Mimpi tentang sebuah negeri di mana tidak lagi ada suara senapan. Tidak lagi ada bau asap mengawang di udara. Tidak lagi ada terdengar derap kaki berlarian. Tidak lagi ada bunyi letusan dari sudut sudut yang memilukan. Dan aku pun luruh seperti serbuk mesiu yang terempas pada genangan doa dan cintamu pada mereka.

Mimpi mimpimu mengingatkanku pada suatu tempo di tahun 2000 silam. Saat itu aku sedang dalam perjalanan ke kampus IAIN di Surabaya. Seorang pedagang asongan menawari sebuah surat kabar di atas bis kota yang kutumpangi. Sejenak mataku tertuju pada beberapa foto seorang ayah dan anak laki lakinya. Setelah kubaca, ternyata foto-foto itu adalah gambar seorang ayah di Palestina bersama seorang anak laki-lakinya-kalau tidak salah namanya Ali-yang sedang berusaha keras menghindari terjangan peluru tentara-tentara israel yang membabibuta. Ada sekitar empat foto. Foto pertama sampai ke tiga memperlihatkan ekspresi ketakutan mereka yang luar biasa dari wajar mereka. Lelaki itu begitu erat memeluk anaknya sambil berusaha menepi di sebuah sudut demi menghindari terjangan peluru. Bibirnya nampak bergetar, matanya gelisah, dan entah tak terbayangkan apa yang ada di hati dan pikirannya waktu itu. Lalu foto keempatlah yang kemudian membuncahkan hati dan airmataku kala itu. Di foto ke empat, lelaki itu nampak menangis histeris, ia berteriak, dan Ali, anak laki-lakinya-tak dapat ia selamatkan. Ali wafat diterjang kebiadapan peluru tentara israel.

Aku terhenyak beberapa memandangi foto-foto itu. Aku seperti mendengar ledakan-ledakan, derap kaki orang yang berlarian mencari persembunyian, letusan-letisan senapan, dan jerit suara yang sahut menyehut dari setiap sudut. Aku seperti merasakan aroma gelisah yang luar biasa. Dan tentu saja, imajenasiku tak mampu menjangkau level ketakutan yang sebenarnya, dan aroma pembuhunan yang sebenarnya yang tengah terjadi di sana. "Ya rab..." kalimat itu pun terucap bersama dengan airmataku yang tak dapat aku bendung. seketi hatiku berdoa agar Allah segera membinasakan bangsa Yahudi la'natullah dari muka bumi ini. Hatiku berdoa agar negeri itu, Palestina, seperti yang ada dalam mimpimu, dalam kemerdekaan yang nyata...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar