Ada kerinduan tentang catatan-catatan masa lalu sesaat setelah pembicaraan kita lewat. Huruf-huruf itu terhenti oleh beratnya mata yang mulai sayu. Kerinduan tentang jiwa yang masih belia. Sewaktu malam bulan mei masih menggigit dingin pula. Dan guratan-guratan gambar itupun perlahan singgah. Satu-satu wajah yang telah entah ke mana bersijingkat dalam senyum menggemai rongga kepala. Namun inilah sebuah cerita yang selalu oleh Tuhan disembunyikan. Seperti kata-katamu, tentang apa yang saat ini kau nikmati.
Demikianlah pula aku, Sofia. Sajak-sajak itu telah lama redup dalam senja. Dan gema erangan yang sempat berteriak-teriak di depan trotoar malam itu hanya menjadi sebuah cerita. Ya ya ya. Cerita itu kini menjadi cerita. Cerita untuk wajah-wajah baru yang dengan tekun mendengarkan dongeng dari kakek Tua sepertiku. Ah, sudah berapa tahunkah?
Seperti telah lewat sudah. Seperti ada dunia lain. atau memang dunia telah terbelah? Dan masih-masing kita terlempar ke dataran yang berlainan. Ke bukit-bukit, lembah-lembah, dan jurang-jurang dengan dekorasi serta gambar-gambar yang berlainan pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar