Sudah sekitar 2 tahun aku tak pernah melihatnya. Tepatnya sejak anak pertamanya--yang tanpa bapak-- berani ia bawa pulang dengan kesiapan, tentu saja, menghadapi berbagai suara-suara sumbang dari tetangga. Lalu setelah itu ia kembali menghilang, entah ke mana. Berita yang beredar menyebutkan kalau dia kawin dengan seorang duda tua dari kecamatan sebelah.
Dan pagi ini aku melihatnya dengan segenap keterkejutan yang membuatku tak percaya. Ia datang sebagai serorang perempuan dewasa dengan wajah yang kusut, kulit gelap, rambut panjang yang tak terawat, dan menggendong seorang anak kecil 1tahunan. Di mana wajah putih bersih yang sempat menggoda setiap pemuda desa ini 12 tahun lalu? di mana kulit putih dan leher bening yang menggairahkan itu? Di mana pula tatapan yang selalu berbinar yang hingga 4 tahun lalu masih nampak di mata?
Sebutlah namanya Mawar. Sebuah nama bunga yang kebetulan sangat aku gemari. Ia pertama kali datang sekitar 15 tahun yang lalu di usianya yang ke 14. Ia begitu belia, cantik, segar, dan lugu. Banyak anak remaja desa ini waktu itu yang menaruh hati kepadanya. Setiap kali ia lewat, pada remaja desa selalu menggodanya. Dan ia hanya tertunduk malu. Bahkan setiap kali ia datang ke toko kelontong orang tuaku, ia selalu tertunduk tiap kali aku ajak bicara. Ia begitu polos. Namun ada satu hal yang membuat aku hawatir kala itu. Orang tuanya yang rumahnya hanya selisih 15 meter dari rumah orang tuaku, menyekolahkan dia di salah satu SMP di dekat desa ini. Yang membuatku hawatir adalah bahwa SMP tersebut terkenal dengan siswa siswanya yang nakal dan berandal. Dan terbukti hanya sekitar 2 bulan ia bertahan di sana ia memutuskan untuk keluar. Aku sempat bertanya padanya sewaktu ia membeli sesuatu di toko orang tuaku tentang keputusanya untuk keluar dari sekolah. Dia bilang, dia tidak betah karena siswa siswanya nakal nakal. So, setahun setelah itu ia nganggur di rumah.
Namun yang yang kembali aku sayangkan adalah keputusannya untuk kembali melanjutkan sekolanya di sekolah yang sama pada tahun berikutnya. Tak pelak, apa yang aku hawatirkan pun terjadi. Entah karena sudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru atau bagaimana, kala itu dia sudah bisa betah bersekolah di sana. Dan hanya beberapa hari setelah itu penampilannya berubah drastis. Dari cara dia berbusana dan bersikap pada remaja remaja desa seolah menunjukkan kalau dia anak gaul. Dia memakai rok yang sangan mini, pake aksesoris berlebihan, gaya rambut gaul, bahkan ia menindik telinganya dengan lima lubang sekaligus. Sungguh sangat bertentangan dengan sifatnya yang sangat lugu dan pemalu setahun sebelumnya.
Tiga tahun berselang, dan apa yang aku khawatirkan benar benar terjadi. Mawar lulus SMP, namun karena keterbatasan keuangan keluarga ia tidak melanjutkan sekolahnya. Ia kemudian bekerja di sebuah toko. Namun hanya beberapa bulan ia dipecat karena terlalu sering bolos dan pacaran.
Saat itu aku sudah jarang melihat dan mendengar informasi tentangnya karena pada tahun 2001 aku melanjutkan kuliahku di Malang. Setiap kali aku pulang aku tidak melihatnya. Kemudian terdengarlah kabar yang membuat aku terkejut. Aku dengar dari isu yang beredar bahwa Mawar menjadi gadis panggilan. Astaghfirullahal'adzin... ucapku dalam hati. Orang orang bilang Mawar jarang pulang, pekerjaan tidak jelas, tapi dia bisa punya HP yang bagus. Aku berusaha untuk tak mempercayainya, namun fakta membuktikan. Bekisar setahun setelah itu, dia hamil tanpa tau dengan jelas siapa bapak dari janin yang dikandungnya. Yang lebih mengenaskan lagi, berita yang aku dengar, yang menjerumuskan dia ke dunia seperti itu adalah salah seorang tetangga sendiri.
Sewaktu hamil keluarga Mawar berusaha menyembunyikan dia dengan cara membawanya ke rumah salah seorang kerabat di kota lain. Namun setelah anaknya lahir ia menyewa sebuah rumah sendiri. ia bekerja entah sebagai apa dan anaknya ia titipkan ke orang lain. setelah anaknya berusia sekitar setahun, Mawar pulang ke rumah orangtuanya. Entah mungkin karena sudah biasa dengan kasus hamil di luar nikah, tidak ada reaksi yang istimewa dari tetangga tetangga terhadap kedatangan Mawar.
Maka begitulah Mawar. ia melanjutkan kehidupannya di lingkungan kami lagi. Sampai sekitar 4 tahun lalu aku kembali tak melihatnya. Dan berita yang aku dengar, ia menikah dengan seorang duda. Namun pagi ini, aku bergitu terkejut. Sosok Mawar yang dulu bersih, putih, dan cantik, nampak begitu kusut, gelap, dan kelihatan tua. Entah apa yang terjadi pada Mawar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar