Perlahan pintu terbuka, dan kulihat lelaki itu pun masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu, mengucapkan assalamu'alaikum, dan aku persilahkan masuk. Matanya berbinar dengan segaris senyum di antara wajahnya yang tegap serasi dengan tubuh besar dan tingginya. Aku persilahkan ia duduk sambil tentu saja kusambut senyumannya dengan senyum pula.
Ia nampak ragu-ragu sembari tetap mempertahankan senyumnya yang perlahan mulai bisa aku tangkap maknanya. Dan benar, ia hendak berkonsultasi, atau dalam bahasa anak sekarang lebih dikenal dengan istilah curhat.
Perlahn ia membuka pembicaraan dengan sedikit senyum yang sesekali dibarengi dengan cengengas cengenges yang semakin aku tangkap maksudnya. Dan seperti yang aku duga, senyum dan cengengesaannya mulai pudar dan berubah menjadi suara yang sedikit gemetar.
Wajahnya menengadah, berusaha menahan bulir bulir airmata yang mulai menggenang di kelopak matanya. Namun ia tak bisa bersembunyi, kegalauan itu pun pecah. Pipinya, rahang yang gagah itu pun basah bersama suaranya yang putus putus.
Lelaki dan airmata...
Terjadi lagi. Dan lagi. Dan lagi...
Di sinilah aku semakin mengerti bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam fitrah yang sama meskipun dengan bungkus jasmani yang berbeda. Mungkin ini juga yang dalam bahasa Ari Ginanjar disebut sebagai anggukan universal.
Ya ya ya. Anggukan universal alias fitrah manusia dalam merasakan dan merespon sesuatu dengan nalurinya. Manusia, gender apa pun dia (bahkan termasuk waria), sebesar apapun ukuran tubuhnya, seperti apa pun warna kulitnya, tetaplah punya nurani dia mana ia bisa merasa sedih dan menangis sebagaimana lelaki gagah yang saat ini tersedu dan terisak di depanku.
Menangislah
bila harus menangis
karna kita semua manusia... *)
*) dikutip dari bait lagu karya Ahmad Dhani
Jumat, 30 Desember 2011
Kamis, 29 Desember 2011
SURABAYA - SEPTEMBER - 2000
Buat Iman Diyasso Ismail
Gambar gambar itu berlompatan satu demi satu dari setiap huruf yang kau susun untuk merangkai mimpi itu. Mimpi tentang sebuah negeri di mana tidak lagi ada suara senapan. Tidak lagi ada bau asap mengawang di udara. Tidak lagi ada terdengar derap kaki berlarian. Tidak lagi ada bunyi letusan dari sudut sudut yang memilukan. Dan aku pun luruh seperti serbuk mesiu yang terempas pada genangan doa dan cintamu pada mereka.
Mimpi mimpimu mengingatkanku pada suatu tempo di tahun 2000 silam. Saat itu aku sedang dalam perjalanan ke kampus IAIN di Surabaya. Seorang pedagang asongan menawari sebuah surat kabar di atas bis kota yang kutumpangi. Sejenak mataku tertuju pada beberapa foto seorang ayah dan anak laki lakinya. Setelah kubaca, ternyata foto-foto itu adalah gambar seorang ayah di Palestina bersama seorang anak laki-lakinya-kalau tidak salah namanya Ali-yang sedang berusaha keras menghindari terjangan peluru tentara-tentara israel yang membabibuta. Ada sekitar empat foto. Foto pertama sampai ke tiga memperlihatkan ekspresi ketakutan mereka yang luar biasa dari wajar mereka. Lelaki itu begitu erat memeluk anaknya sambil berusaha menepi di sebuah sudut demi menghindari terjangan peluru. Bibirnya nampak bergetar, matanya gelisah, dan entah tak terbayangkan apa yang ada di hati dan pikirannya waktu itu. Lalu foto keempatlah yang kemudian membuncahkan hati dan airmataku kala itu. Di foto ke empat, lelaki itu nampak menangis histeris, ia berteriak, dan Ali, anak laki-lakinya-tak dapat ia selamatkan. Ali wafat diterjang kebiadapan peluru tentara israel.
Aku terhenyak beberapa memandangi foto-foto itu. Aku seperti mendengar ledakan-ledakan, derap kaki orang yang berlarian mencari persembunyian, letusan-letisan senapan, dan jerit suara yang sahut menyehut dari setiap sudut. Aku seperti merasakan aroma gelisah yang luar biasa. Dan tentu saja, imajenasiku tak mampu menjangkau level ketakutan yang sebenarnya, dan aroma pembuhunan yang sebenarnya yang tengah terjadi di sana. "Ya rab..." kalimat itu pun terucap bersama dengan airmataku yang tak dapat aku bendung. seketi hatiku berdoa agar Allah segera membinasakan bangsa Yahudi la'natullah dari muka bumi ini. Hatiku berdoa agar negeri itu, Palestina, seperti yang ada dalam mimpimu, dalam kemerdekaan yang nyata...
Gambar gambar itu berlompatan satu demi satu dari setiap huruf yang kau susun untuk merangkai mimpi itu. Mimpi tentang sebuah negeri di mana tidak lagi ada suara senapan. Tidak lagi ada bau asap mengawang di udara. Tidak lagi ada terdengar derap kaki berlarian. Tidak lagi ada bunyi letusan dari sudut sudut yang memilukan. Dan aku pun luruh seperti serbuk mesiu yang terempas pada genangan doa dan cintamu pada mereka.
Mimpi mimpimu mengingatkanku pada suatu tempo di tahun 2000 silam. Saat itu aku sedang dalam perjalanan ke kampus IAIN di Surabaya. Seorang pedagang asongan menawari sebuah surat kabar di atas bis kota yang kutumpangi. Sejenak mataku tertuju pada beberapa foto seorang ayah dan anak laki lakinya. Setelah kubaca, ternyata foto-foto itu adalah gambar seorang ayah di Palestina bersama seorang anak laki-lakinya-kalau tidak salah namanya Ali-yang sedang berusaha keras menghindari terjangan peluru tentara-tentara israel yang membabibuta. Ada sekitar empat foto. Foto pertama sampai ke tiga memperlihatkan ekspresi ketakutan mereka yang luar biasa dari wajar mereka. Lelaki itu begitu erat memeluk anaknya sambil berusaha menepi di sebuah sudut demi menghindari terjangan peluru. Bibirnya nampak bergetar, matanya gelisah, dan entah tak terbayangkan apa yang ada di hati dan pikirannya waktu itu. Lalu foto keempatlah yang kemudian membuncahkan hati dan airmataku kala itu. Di foto ke empat, lelaki itu nampak menangis histeris, ia berteriak, dan Ali, anak laki-lakinya-tak dapat ia selamatkan. Ali wafat diterjang kebiadapan peluru tentara israel.
Aku terhenyak beberapa memandangi foto-foto itu. Aku seperti mendengar ledakan-ledakan, derap kaki orang yang berlarian mencari persembunyian, letusan-letisan senapan, dan jerit suara yang sahut menyehut dari setiap sudut. Aku seperti merasakan aroma gelisah yang luar biasa. Dan tentu saja, imajenasiku tak mampu menjangkau level ketakutan yang sebenarnya, dan aroma pembuhunan yang sebenarnya yang tengah terjadi di sana. "Ya rab..." kalimat itu pun terucap bersama dengan airmataku yang tak dapat aku bendung. seketi hatiku berdoa agar Allah segera membinasakan bangsa Yahudi la'natullah dari muka bumi ini. Hatiku berdoa agar negeri itu, Palestina, seperti yang ada dalam mimpimu, dalam kemerdekaan yang nyata...
Rabu, 28 Desember 2011
Histeria
Aku tak mengerti kenapa mereka berdua berpenampilan seperti itu. Kulit hitam-sangat hitam- kusut, kaos hitam, rambut moha dicat merah, lengkap dengan logam2 besar yang bergelantungan di kepala hingga ujung kaki. “Punk”. Begitulah istilah anak jaman sekarang.
Ya, mereka tergelak-entah karena apa- dengan sebuah gitar kecil, atau yang orang jawa bilang ‘kentrung/kecruk/okulele’. Yang jelas mereka pastilah anak-anak pengamen jalanan.
Hatiku miris melihat mereka. Mereka berdua hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak generasi penerus bangsa yang larut dalam budaya baru, budaya asing, yang begitu mereka gandrungi tanpa tahu apa maksud dan tujuannya. Di perempatan perempatan yang lain, akan masih banyak punker punker yang lain. Lalu tanyalah mereka, bagaimana sejarah dan arti dari sebuah komunitas punk. Mereka tak akan tau. Yang mereka tau adalah berpenampilah keren (setidaknya menurut mereka), merasa bebas berekspresi.
Aku teringat tujuh-delapan tahun lalu, ketika aku masih aktif di sebuah komunitas music kampus. Dan seperti sebagian besar anak anak music pada saat itu, aku dan teman-tamanku pun berpenampilan layaknya rocker. Gondrong, plus celana bolong. Namun aku selalu bilang pada orang orang di komunitasku bahwa kita boleh berpenampilan apa pun, asal terawatt, tejaga, dan tetap punya kualitas sebagai manusia, punya misi hidup. Tidak sekedar asal asalan dan ikut ikutan.
Dan sekali lagi aku tak mengerti kenapa dua remaja itu berpenampilan seperti itu. Kenapaa juga kulitnya bisa sehitam orang orang afrika. Apakah mereka tau makna dibalik rantai besasr yanag melingkar di celana jeans mereka. Apakah mereka tau makna dari gaya rambut moha dicat merah? Apakah mereka tau makna dari …..
Namun kemudian pikiranku beralih pada fenomena lain. Kalau anak anak jalanan itu, mereka hanyut dalam budanya dandanan ala punk. Di belahan strata social yang lain, generasi geneasi penerus bangsa ini, terutama yang dari kalangan menengah ke atas, terutama kaum hawa, mereka hanyut, tenggelam, dalam hysteria ketampanan dan pesona aktor aktor korea. Tidak hanya anak anak kuliah atau SMA. Bahkan anak anak SD dan satri santri pesantren pun, tak kalah hebohnya…
Senin, 26 Desember 2011
Wanita Itu
Sudah sekitar 2 tahun aku tak pernah melihatnya. Tepatnya sejak anak pertamanya--yang tanpa bapak-- berani ia bawa pulang dengan kesiapan, tentu saja, menghadapi berbagai suara-suara sumbang dari tetangga. Lalu setelah itu ia kembali menghilang, entah ke mana. Berita yang beredar menyebutkan kalau dia kawin dengan seorang duda tua dari kecamatan sebelah.
Dan pagi ini aku melihatnya dengan segenap keterkejutan yang membuatku tak percaya. Ia datang sebagai serorang perempuan dewasa dengan wajah yang kusut, kulit gelap, rambut panjang yang tak terawat, dan menggendong seorang anak kecil 1tahunan. Di mana wajah putih bersih yang sempat menggoda setiap pemuda desa ini 12 tahun lalu? di mana kulit putih dan leher bening yang menggairahkan itu? Di mana pula tatapan yang selalu berbinar yang hingga 4 tahun lalu masih nampak di mata?
Sebutlah namanya Mawar. Sebuah nama bunga yang kebetulan sangat aku gemari. Ia pertama kali datang sekitar 15 tahun yang lalu di usianya yang ke 14. Ia begitu belia, cantik, segar, dan lugu. Banyak anak remaja desa ini waktu itu yang menaruh hati kepadanya. Setiap kali ia lewat, pada remaja desa selalu menggodanya. Dan ia hanya tertunduk malu. Bahkan setiap kali ia datang ke toko kelontong orang tuaku, ia selalu tertunduk tiap kali aku ajak bicara. Ia begitu polos. Namun ada satu hal yang membuat aku hawatir kala itu. Orang tuanya yang rumahnya hanya selisih 15 meter dari rumah orang tuaku, menyekolahkan dia di salah satu SMP di dekat desa ini. Yang membuatku hawatir adalah bahwa SMP tersebut terkenal dengan siswa siswanya yang nakal dan berandal. Dan terbukti hanya sekitar 2 bulan ia bertahan di sana ia memutuskan untuk keluar. Aku sempat bertanya padanya sewaktu ia membeli sesuatu di toko orang tuaku tentang keputusanya untuk keluar dari sekolah. Dia bilang, dia tidak betah karena siswa siswanya nakal nakal. So, setahun setelah itu ia nganggur di rumah.
Namun yang yang kembali aku sayangkan adalah keputusannya untuk kembali melanjutkan sekolanya di sekolah yang sama pada tahun berikutnya. Tak pelak, apa yang aku hawatirkan pun terjadi. Entah karena sudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru atau bagaimana, kala itu dia sudah bisa betah bersekolah di sana. Dan hanya beberapa hari setelah itu penampilannya berubah drastis. Dari cara dia berbusana dan bersikap pada remaja remaja desa seolah menunjukkan kalau dia anak gaul. Dia memakai rok yang sangan mini, pake aksesoris berlebihan, gaya rambut gaul, bahkan ia menindik telinganya dengan lima lubang sekaligus. Sungguh sangat bertentangan dengan sifatnya yang sangat lugu dan pemalu setahun sebelumnya.
Tiga tahun berselang, dan apa yang aku khawatirkan benar benar terjadi. Mawar lulus SMP, namun karena keterbatasan keuangan keluarga ia tidak melanjutkan sekolahnya. Ia kemudian bekerja di sebuah toko. Namun hanya beberapa bulan ia dipecat karena terlalu sering bolos dan pacaran.
Saat itu aku sudah jarang melihat dan mendengar informasi tentangnya karena pada tahun 2001 aku melanjutkan kuliahku di Malang. Setiap kali aku pulang aku tidak melihatnya. Kemudian terdengarlah kabar yang membuat aku terkejut. Aku dengar dari isu yang beredar bahwa Mawar menjadi gadis panggilan. Astaghfirullahal'adzin... ucapku dalam hati. Orang orang bilang Mawar jarang pulang, pekerjaan tidak jelas, tapi dia bisa punya HP yang bagus. Aku berusaha untuk tak mempercayainya, namun fakta membuktikan. Bekisar setahun setelah itu, dia hamil tanpa tau dengan jelas siapa bapak dari janin yang dikandungnya. Yang lebih mengenaskan lagi, berita yang aku dengar, yang menjerumuskan dia ke dunia seperti itu adalah salah seorang tetangga sendiri.
Sewaktu hamil keluarga Mawar berusaha menyembunyikan dia dengan cara membawanya ke rumah salah seorang kerabat di kota lain. Namun setelah anaknya lahir ia menyewa sebuah rumah sendiri. ia bekerja entah sebagai apa dan anaknya ia titipkan ke orang lain. setelah anaknya berusia sekitar setahun, Mawar pulang ke rumah orangtuanya. Entah mungkin karena sudah biasa dengan kasus hamil di luar nikah, tidak ada reaksi yang istimewa dari tetangga tetangga terhadap kedatangan Mawar.
Maka begitulah Mawar. ia melanjutkan kehidupannya di lingkungan kami lagi. Sampai sekitar 4 tahun lalu aku kembali tak melihatnya. Dan berita yang aku dengar, ia menikah dengan seorang duda. Namun pagi ini, aku bergitu terkejut. Sosok Mawar yang dulu bersih, putih, dan cantik, nampak begitu kusut, gelap, dan kelihatan tua. Entah apa yang terjadi pada Mawar...
Dan pagi ini aku melihatnya dengan segenap keterkejutan yang membuatku tak percaya. Ia datang sebagai serorang perempuan dewasa dengan wajah yang kusut, kulit gelap, rambut panjang yang tak terawat, dan menggendong seorang anak kecil 1tahunan. Di mana wajah putih bersih yang sempat menggoda setiap pemuda desa ini 12 tahun lalu? di mana kulit putih dan leher bening yang menggairahkan itu? Di mana pula tatapan yang selalu berbinar yang hingga 4 tahun lalu masih nampak di mata?
Sebutlah namanya Mawar. Sebuah nama bunga yang kebetulan sangat aku gemari. Ia pertama kali datang sekitar 15 tahun yang lalu di usianya yang ke 14. Ia begitu belia, cantik, segar, dan lugu. Banyak anak remaja desa ini waktu itu yang menaruh hati kepadanya. Setiap kali ia lewat, pada remaja desa selalu menggodanya. Dan ia hanya tertunduk malu. Bahkan setiap kali ia datang ke toko kelontong orang tuaku, ia selalu tertunduk tiap kali aku ajak bicara. Ia begitu polos. Namun ada satu hal yang membuat aku hawatir kala itu. Orang tuanya yang rumahnya hanya selisih 15 meter dari rumah orang tuaku, menyekolahkan dia di salah satu SMP di dekat desa ini. Yang membuatku hawatir adalah bahwa SMP tersebut terkenal dengan siswa siswanya yang nakal dan berandal. Dan terbukti hanya sekitar 2 bulan ia bertahan di sana ia memutuskan untuk keluar. Aku sempat bertanya padanya sewaktu ia membeli sesuatu di toko orang tuaku tentang keputusanya untuk keluar dari sekolah. Dia bilang, dia tidak betah karena siswa siswanya nakal nakal. So, setahun setelah itu ia nganggur di rumah.
Namun yang yang kembali aku sayangkan adalah keputusannya untuk kembali melanjutkan sekolanya di sekolah yang sama pada tahun berikutnya. Tak pelak, apa yang aku hawatirkan pun terjadi. Entah karena sudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru atau bagaimana, kala itu dia sudah bisa betah bersekolah di sana. Dan hanya beberapa hari setelah itu penampilannya berubah drastis. Dari cara dia berbusana dan bersikap pada remaja remaja desa seolah menunjukkan kalau dia anak gaul. Dia memakai rok yang sangan mini, pake aksesoris berlebihan, gaya rambut gaul, bahkan ia menindik telinganya dengan lima lubang sekaligus. Sungguh sangat bertentangan dengan sifatnya yang sangat lugu dan pemalu setahun sebelumnya.
Tiga tahun berselang, dan apa yang aku khawatirkan benar benar terjadi. Mawar lulus SMP, namun karena keterbatasan keuangan keluarga ia tidak melanjutkan sekolahnya. Ia kemudian bekerja di sebuah toko. Namun hanya beberapa bulan ia dipecat karena terlalu sering bolos dan pacaran.
Saat itu aku sudah jarang melihat dan mendengar informasi tentangnya karena pada tahun 2001 aku melanjutkan kuliahku di Malang. Setiap kali aku pulang aku tidak melihatnya. Kemudian terdengarlah kabar yang membuat aku terkejut. Aku dengar dari isu yang beredar bahwa Mawar menjadi gadis panggilan. Astaghfirullahal'adzin... ucapku dalam hati. Orang orang bilang Mawar jarang pulang, pekerjaan tidak jelas, tapi dia bisa punya HP yang bagus. Aku berusaha untuk tak mempercayainya, namun fakta membuktikan. Bekisar setahun setelah itu, dia hamil tanpa tau dengan jelas siapa bapak dari janin yang dikandungnya. Yang lebih mengenaskan lagi, berita yang aku dengar, yang menjerumuskan dia ke dunia seperti itu adalah salah seorang tetangga sendiri.
Sewaktu hamil keluarga Mawar berusaha menyembunyikan dia dengan cara membawanya ke rumah salah seorang kerabat di kota lain. Namun setelah anaknya lahir ia menyewa sebuah rumah sendiri. ia bekerja entah sebagai apa dan anaknya ia titipkan ke orang lain. setelah anaknya berusia sekitar setahun, Mawar pulang ke rumah orangtuanya. Entah mungkin karena sudah biasa dengan kasus hamil di luar nikah, tidak ada reaksi yang istimewa dari tetangga tetangga terhadap kedatangan Mawar.
Maka begitulah Mawar. ia melanjutkan kehidupannya di lingkungan kami lagi. Sampai sekitar 4 tahun lalu aku kembali tak melihatnya. Dan berita yang aku dengar, ia menikah dengan seorang duda. Namun pagi ini, aku bergitu terkejut. Sosok Mawar yang dulu bersih, putih, dan cantik, nampak begitu kusut, gelap, dan kelihatan tua. Entah apa yang terjadi pada Mawar...
Langganan:
Komentar (Atom)