Hanya keyakinanku pada Tuhan yang membuat aku mampu bertahan pada keadaan ini. Namun entahlah, sudahkah aku mencapai titik nadir dari keresahan itu. Atau belum. Jika memang belum, akankah aku kuat menahan gempuran perasaan dan keraguan tentang masa depan kelak?
Saat ini yang ada dalam relungku hanyalah wajah-wajah itu. wajah-wajah yang selalu ingin aku belai dengan bakti dan cinta, dengan hati dan tulus jiwa. Wajah-wajah yang di sanalah masa depan aku lukiskan. Bukan masa depanku.
Dan siapapun boleh tak mengerti. Boleh menganggap aku gilaahu. Boleh menganggap aku ... entahlah...
Dan aku tidak mengeluh. Tapi aku tak bisa lari, dari ruang gelisah yang kian hari mengombang ambingkan detak nadi. Dan aku tak punya tempat untuk berlabuh. Mengadukan retak kegalauan yang membumbung mengaduh. Aku ingin kembali rasanya, sesekali, mendekati dan menghisap racun nikotin sebagaimana tahun-tahun itu. Tahun-tahun di mana gelisah menggelayut melilit tubuh. Namun dengan cerita yang lain tentu saja. Plot, tema, dan tokoh-tokoh yang lain. Namun aku takut. Kepulan asap nikmat tanpa definisi itu akan malah mengakhiri perjalananku.
Kawan, entah siapa pun dirimu, sebab tak kutemukan lagi kamu yang seperti dulu sejak waktu harus memutuskan tatap kita lewat sebuah topi toga, ingin kau bercerita padamu.
Minggu, 22 April 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
Gang Sunan Ampel
Di lorong inilah semuanya dimulai. 11 tahun yang lalu, tepatnya. Sebuah lorong dengan nama "gang Sunan Ampel". Dengan angin sore bulan Juni yang mengajakku berkenalan dengan perbedaan cuaca dari lereng perbukitan. Di sinilah catatan itu bermula. Menjelajahi episode enam tahun yang penuh petualangan dan kejutan kejutan.
Hmmm... telah lama ternyata. Apa yang berubah?
Status, kesibukan, mindset, bla bla bla...
termasuk warung masakan padang itu. Telah disulap menjadi counter photocopy.
Lalu gedung gedung itu, ah, semua telah runtuh. Gedung-gedung tua yang mengelilingi jajaran pohon lengkeng, tempat wajah wajah muda bersenda dan mahsyuk dalam gairah jingga. Semua telah berubah, sahabat. Ada yang asing dalam detak jantungku ketika langkah langkah itu perlahan menyusuri sebuah pintu dengan tiga resepsionist yang menunggu. Sebuah pemandangan yang sungguh tak akrab di mataku.
Dan lorong inilah. Di antara kepulan nasi panas dan ayam goreng. Lorong ini masih sama. Jalan panjang ke barat yang pastinya akan mengantarkan aku menuju beranda yang dulu. Di mana ku perkenalkan padamu sebuah lagu tentang seseorang. Beranda yang menjadi persinggahan menuangkan segelas certita. Lalu lelaki paruh baya itu. yayaya, yang punya wartel yang selalu tajam mengawasi kau dan aku.
Hmmm... telah lama ternyata. Apa yang berubah?
Status, kesibukan, mindset, bla bla bla...
termasuk warung masakan padang itu. Telah disulap menjadi counter photocopy.
Lalu gedung gedung itu, ah, semua telah runtuh. Gedung-gedung tua yang mengelilingi jajaran pohon lengkeng, tempat wajah wajah muda bersenda dan mahsyuk dalam gairah jingga. Semua telah berubah, sahabat. Ada yang asing dalam detak jantungku ketika langkah langkah itu perlahan menyusuri sebuah pintu dengan tiga resepsionist yang menunggu. Sebuah pemandangan yang sungguh tak akrab di mataku.
Dan lorong inilah. Di antara kepulan nasi panas dan ayam goreng. Lorong ini masih sama. Jalan panjang ke barat yang pastinya akan mengantarkan aku menuju beranda yang dulu. Di mana ku perkenalkan padamu sebuah lagu tentang seseorang. Beranda yang menjadi persinggahan menuangkan segelas certita. Lalu lelaki paruh baya itu. yayaya, yang punya wartel yang selalu tajam mengawasi kau dan aku.
Senin, 30 Januari 2012
Sehembus
Ada kerinduan tentang catatan-catatan masa lalu sesaat setelah pembicaraan kita lewat. Huruf-huruf itu terhenti oleh beratnya mata yang mulai sayu. Kerinduan tentang jiwa yang masih belia. Sewaktu malam bulan mei masih menggigit dingin pula. Dan guratan-guratan gambar itupun perlahan singgah. Satu-satu wajah yang telah entah ke mana bersijingkat dalam senyum menggemai rongga kepala. Namun inilah sebuah cerita yang selalu oleh Tuhan disembunyikan. Seperti kata-katamu, tentang apa yang saat ini kau nikmati.
Demikianlah pula aku, Sofia. Sajak-sajak itu telah lama redup dalam senja. Dan gema erangan yang sempat berteriak-teriak di depan trotoar malam itu hanya menjadi sebuah cerita. Ya ya ya. Cerita itu kini menjadi cerita. Cerita untuk wajah-wajah baru yang dengan tekun mendengarkan dongeng dari kakek Tua sepertiku. Ah, sudah berapa tahunkah?
Seperti telah lewat sudah. Seperti ada dunia lain. atau memang dunia telah terbelah? Dan masih-masing kita terlempar ke dataran yang berlainan. Ke bukit-bukit, lembah-lembah, dan jurang-jurang dengan dekorasi serta gambar-gambar yang berlainan pula.Rabu, 18 Januari 2012
Rumpun Bambu
Tak ada yang perlu dibicarakan antara rumpun bambu dan keladi yang masih menghijau beberapa minggu lalu. Sebab inilah putaran waktu. Sebab bumi bulat. Sebab kepala dan perut manusia juga bulat. Maka segala bentuk catatan akan berubah judul dan episodenya. Di kanfas goresan warna membentuk garis aragaris yang berbeda pula. Sebab kemarau sudah berlalu, dan hujan tak lagi lama menunggu. Maka tak ada yang perlu dibicarakan lagi antara ilalang dan rumpun bambu tentang waktu yang tiba. Tentang tajamnya bilah parang yang menebas skenario pematang sawah.
Tak ada yang perludibicarakan lagi antara ilalang dan rumpun bambu. Sebab mereka telah terkulai. Dan siap dibilah menjadi rajutan dinding-dinging rumah. Sebab bumi tempat tumbuh dan berdiri, akan disulap menjadi dinding beton dengan akar-akar investasi tingkat tinggi.
Namun beginilah selalu cerita putaran waktu. Dan tak ada lagi yang perlu dibicarakan antara padang ilalang dan rumpun bambu...
Tak ada yang perludibicarakan lagi antara ilalang dan rumpun bambu. Sebab mereka telah terkulai. Dan siap dibilah menjadi rajutan dinding-dinging rumah. Sebab bumi tempat tumbuh dan berdiri, akan disulap menjadi dinding beton dengan akar-akar investasi tingkat tinggi.
Namun beginilah selalu cerita putaran waktu. Dan tak ada lagi yang perlu dibicarakan antara padang ilalang dan rumpun bambu...
Kamis, 05 Januari 2012
Elegi Kampoeng Lama
Kota kecil ini, kampung ini, sudah tidak seperti dulu. Ia bukan lagi kampung yang menaklukkan siapapun yang datang menjadi lebih baik dan matang. tapi kampung inilah yang sekarang takluk dan berserah pada siapa yang datang.
Dulu, kampung ini selalu mengajarkan siapa saja yang datang untuk belajar hakikat hidup dan kesederhanaan. Siapa pun yang datang ke sini, harus mau makan di warung sederhana dengan menu sederhana dengan harga seribu rupiah. Dulu siapa pun yang datang ke sini harus belajar mandi di kamar mandi belakang rumah yang kadang dindingnya hanya selapis kayu atau rajutan bambu, atau bahkan sulaman daun daun pisang yang kadang meninggalkan lubang. Dulu siapa pun yang datang ke sini harus belajar bagaimana berbusana layaknya masyarakat desa yang sederhana, santun, dan bersahaja. Dulu di atas jam 9 malam kampung ini sudah begitu sepi, jalanan lengang, dan tak akan terlihat satu pun gadis sekedar berjalan di luar.
Namun beginilah jaman, kawan. Setiap keaslian akan rela tergerus oleh peradaban-peradaban baru yang datang. Kampung ini tentu saja, tak sesepi dulu, bisa dikatakan sudah merangkak menjadi setengah metropoltan. Warung warung sederhana dengan hidangan khas masyarakat desa dan harganya yang murah telah banyak yang undur diri, perlahan dengan sahajanya menghilang dan pergi, dan berganti dengan kafe kafe gaul ala anak remaja yang lengkap dengan musiknya yang membuat kepala tak bisa diam. Menu menu sederhana itu pun mulai berubah nama dengan ejaan ejaan yang mungkin membuat lidah penduduk desa ini keseleo untuk mengucapkannya.
Di setiap sudut kafe dan jalan, tak akan asing lagi remaja remaja dengan busana ala sinetron, gaya bahasa ala sinetron, bahkan tertawa ala sinetron. Kampung ini sudah berserah. Tak lagi mampu mengajarkan pada siapa pun yang datang untuk belajar memahami hidup susah. Namun kampung ini kini telah siap memanjakan siapa pun yang datang dengan kamar-kamar mewah lengkap dengan kamar mandi di dalamnya. Dan di atas jam 10 malam pun, di kafe maupun sepanjang jalan, gadis gadis atau pun pemuda pemuda dan rejama masih riuh berbincang di remangnya suasana malam.
Dulu, kampung ini selalu mengajarkan siapa saja yang datang untuk belajar hakikat hidup dan kesederhanaan. Siapa pun yang datang ke sini, harus mau makan di warung sederhana dengan menu sederhana dengan harga seribu rupiah. Dulu siapa pun yang datang ke sini harus belajar mandi di kamar mandi belakang rumah yang kadang dindingnya hanya selapis kayu atau rajutan bambu, atau bahkan sulaman daun daun pisang yang kadang meninggalkan lubang. Dulu siapa pun yang datang ke sini harus belajar bagaimana berbusana layaknya masyarakat desa yang sederhana, santun, dan bersahaja. Dulu di atas jam 9 malam kampung ini sudah begitu sepi, jalanan lengang, dan tak akan terlihat satu pun gadis sekedar berjalan di luar.
Namun beginilah jaman, kawan. Setiap keaslian akan rela tergerus oleh peradaban-peradaban baru yang datang. Kampung ini tentu saja, tak sesepi dulu, bisa dikatakan sudah merangkak menjadi setengah metropoltan. Warung warung sederhana dengan hidangan khas masyarakat desa dan harganya yang murah telah banyak yang undur diri, perlahan dengan sahajanya menghilang dan pergi, dan berganti dengan kafe kafe gaul ala anak remaja yang lengkap dengan musiknya yang membuat kepala tak bisa diam. Menu menu sederhana itu pun mulai berubah nama dengan ejaan ejaan yang mungkin membuat lidah penduduk desa ini keseleo untuk mengucapkannya.
Di setiap sudut kafe dan jalan, tak akan asing lagi remaja remaja dengan busana ala sinetron, gaya bahasa ala sinetron, bahkan tertawa ala sinetron. Kampung ini sudah berserah. Tak lagi mampu mengajarkan pada siapa pun yang datang untuk belajar memahami hidup susah. Namun kampung ini kini telah siap memanjakan siapa pun yang datang dengan kamar-kamar mewah lengkap dengan kamar mandi di dalamnya. Dan di atas jam 10 malam pun, di kafe maupun sepanjang jalan, gadis gadis atau pun pemuda pemuda dan rejama masih riuh berbincang di remangnya suasana malam.
Selasa, 03 Januari 2012
Diklat Mental Sinetron
Andai bahasa wajah bisa dituliskan dengan huruf-huruf...
Ingin aku ceritakan betapa tidak hanya bahasa kata, tapi bahasa wajah dan bahasa tubuh remaja-remaja atau bahkan orang-orang dewasa jaman sekarang sudah lulus diklat dan pelatihan gaya ujar ala sinetron. Jutek, ketus, judes, penuh intimidasi.
Ya setidaknya itulah yang terjadi. Pada sebagian besar masyarakat kita. Terutama remaja, terutama rejama puteri, terutama di kota-kota besar. Mental sinetron seperti sudah berkacak pinggang mengalahkan Pendidikan Moral Pancasila, Pkn, Aqidah ahlaq, atau doktrin unggah ungguh alias pendidikan tata krama.
Tidak hanya pilihan kata ketika berujar dan bagaimana intonasi mengucakannya, gerakan mata ketika memandang, bahkan gerakan bibir dan suara napas pun persis seperti adegan sinetron. Tapi ini bukan sinetron, ini kehidupan nyata.
Ingin aku ceritakan betapa tidak hanya bahasa kata, tapi bahasa wajah dan bahasa tubuh remaja-remaja atau bahkan orang-orang dewasa jaman sekarang sudah lulus diklat dan pelatihan gaya ujar ala sinetron. Jutek, ketus, judes, penuh intimidasi.
Ya setidaknya itulah yang terjadi. Pada sebagian besar masyarakat kita. Terutama remaja, terutama rejama puteri, terutama di kota-kota besar. Mental sinetron seperti sudah berkacak pinggang mengalahkan Pendidikan Moral Pancasila, Pkn, Aqidah ahlaq, atau doktrin unggah ungguh alias pendidikan tata krama.
Tidak hanya pilihan kata ketika berujar dan bagaimana intonasi mengucakannya, gerakan mata ketika memandang, bahkan gerakan bibir dan suara napas pun persis seperti adegan sinetron. Tapi ini bukan sinetron, ini kehidupan nyata.
Langganan:
Komentar (Atom)