Sabtu, 18 Februari 2012

Gang Sunan Ampel

Di lorong inilah semuanya dimulai. 11 tahun yang lalu, tepatnya. Sebuah lorong dengan nama "gang Sunan Ampel". Dengan angin sore bulan Juni yang mengajakku berkenalan dengan perbedaan cuaca dari lereng perbukitan. Di sinilah catatan itu bermula. Menjelajahi episode enam tahun yang penuh petualangan dan kejutan kejutan.

Hmmm... telah lama ternyata. Apa yang berubah?
Status, kesibukan, mindset, bla bla bla...
termasuk warung masakan padang itu. Telah disulap menjadi counter photocopy.

Lalu gedung gedung itu, ah, semua telah runtuh. Gedung-gedung tua yang mengelilingi jajaran pohon lengkeng, tempat wajah wajah muda bersenda dan mahsyuk dalam gairah jingga. Semua telah berubah, sahabat. Ada yang asing dalam detak jantungku ketika langkah langkah itu perlahan menyusuri sebuah pintu dengan tiga resepsionist yang menunggu. Sebuah pemandangan yang sungguh tak akrab di mataku.

Dan lorong inilah. Di antara kepulan nasi panas dan ayam goreng. Lorong ini masih sama. Jalan panjang ke barat yang pastinya akan mengantarkan aku menuju beranda yang dulu. Di mana ku perkenalkan padamu sebuah lagu tentang seseorang. Beranda yang menjadi persinggahan menuangkan segelas certita. Lalu lelaki paruh baya itu. yayaya, yang punya wartel yang selalu tajam mengawasi kau dan aku.